Apartemen Mewah untuk Kalangan Miliarder Tumbuh 3 Persen

CEO Astra Property David Iman Santosa
Fenomena menarik dalam konstelasi bisnis dan industri properti aktual adalah saat perekonomian melambat, dan rupiah terdepresiasi sehingga berarti akan mengubah peta, lalu ada proyeksi investasi, para pengembang justru tetap menjalankan bisnis properti untuk kelas mewah.

Pengembang-pengembang yang membidik khusus untuk kalangan jetset ini antara lain adalah PT Astra International Tbk melalui tentakel bisnis PT Astra Property, Gunung Sewu Group dengan PT Farpoint Realty Indonesia, dan PT Intiland Development Tbk.

CEO Farpoint Realty Indonesia, Jusup Halimi, menjelaskan, untuk saat ini, portofolio proyek Farpoint memang berada di segmen eksklusif dan premium, dengan pembangunan berkelanjutan berstandar internasional.

Pasar, tambah Jusup, juga mengenal Farpoint sebagai boutique developer, meskipun pihaknya tidak secara sengaja menempatkan bisnis mereka dalam segmen tersebut.

“Karena itu, progres pembangunan proyek-proyek yang sedang berjalan saat ini tetap berlanjut sesuai jadwal atau on schedule,” tutur Jusuf, Senin (7/9/2015).

Sementara itu, CEO Astra Property, David Iman Santosa, mengatakan, perusahaannya selalu melihat peluang dan melakukan studi kelayakan untuk semua segmen pasar.

Adapun segmen yang sesuai dengan studi kelayakan Astra Property adalah kelas atas dan premium. Selain itu, Astra Property juga memiliki portofolio aset yang bisa dikembangkan atau dikonversikan menjadi properti dengan spesifikasi eksklusif.

“Karena itulah, kami masuk pasar ini dengan menggandeng Hongkong Land yang punya kesamaan visi membangun dengan berbasis kualitas tinggi,” ujar David kepada Kompas.com, Selasa (8/9/2015).

David optimistis, kelas premium yang bermotif investasi dan juga end user tidak akan menahan investasinya lebih lama, dan tertarik membeli Anandamaya Residence karena berbagai pertimbangan.

“Saat ini saja, penjualan sudah mencapai posisi 90 persen dari total 509 unit apartemen yang dipasarkan sejak Agustus 2014. Hal ini membuktikan bahwa pasar apartemen mewah ada dan terus bertumbuh,” imbuh David.

Padahal, harga termurah yang ditawarkan adalah sekitar Rp 9,6 miliar untuk ukuran dua kamar tidur atau 130 meter persegi dan yang termahal Rp 36 miliar untuk dimensi 360 meter persegi atau tiga kamar tidur.

Namun, berapa besar sejatinya pangsa pasar untuk kasta masyarakat elite ini?

Head of Advisory JLL Indonesia Vivin Harsanto menjawab, populasi kelas atas Jakarta terus meningkat dari tahun ke tahun. Mengutip riset McKinsey Global Institute 2012, Vivin menyodorkan angka bahwa 45 juta jiwa dari kelas menengah pada 2012 akan tumbuh menjadi 135 juta jiwa pada 2020 mendatang.

“Dari total jumlah itu, satu persennya merupakan kelas high net worth individuals,” kata Vivin.

Sementara itu, menurut laporan Wealthinsight, per 10 September 2014 terdapat 36.215 miliarder di Indonesia hingga akhir tahun 2013, yang secara kolektif memiliki kekayaan senilai 230 miliar dollar AS.

Pada tahun 2018, jumlah kalangan miliarder tersebut diprediksi melejit menjadi 51.003 orang dengan kekayaan kolektif 336 miliar dollar AS. Hal ini membuat high net worth individual memiliki kekayaan lebih banyak 32,3 persen dari tahun 2013.

Sebanyak 55 persen atau 19.954 miliarder tinggal di Jakarta. Ibu kota negara ini juga memperlihatkan lonjakan tercepat dari pertumbuhan orang kaya. Pada posisi berikutnya, 2,7 persen atau 974 orang kaya tinggal di Bandung.

Meski kalangan kaya bertambah banyak, pasokan apartemen baru untuk memenuhi kebutuhan segmen pasar ini terbatas. Menurut riset JLL Indonesia, jika pada tahun 2012 lalu apartemen untuk kalangan elite ini hanya satu persen dari total 100.520 unit, hingga 2018 mendatang berubah menjadi 3 persen dari total 60.000 unit apartemen.

Pasar kelas atas, lanjut Vivin, tidak sensitif terhadap harga. Mereka memang menunda pembelian, tetapi menunggu hingga lahir produk yang sesuai dengan ekspektasi. Produk tersebut haruslah berkualitas, dibangun oleh pengembang dengan konstruksi finansial kuat, lokasi strategis di pusat bisnis, dan juga menawarkan gaya hidup sesuai dengan kelasnya.

Presiden Direktur dan CEO PT Intiland Development Tbk Hendro S Gondokusumo menambahkan, jika pengembang mampu menawarkan produk yang sesuai kebutuhan segmen pasar yang dibidik, maka itu akan cepat terserap pasar.

“Yang penting bagi kami adalah terus kerja membangun. Kita konsentrasi membangun untuk kelas atas. Meski ada juga kelas menengah, kami saat ini konsentrasi menyelesaikan 1Park Residence, Regatta The Icon, dan Graha Golf di Surabaya,” kata Hendro kepada Kompas.com, Rabu (9/8/2015).

Sementara itu, Farpoint Realty Indonesia berencana memasarkan The Hundred dengan tawaran harga perdana Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per meter persegi untuk ukuran 134-340 meter persegi.

“Harga akan berubah tergantung kondisi ekonomi. Harga bisa lebih tinggi karena kami masih menghitung secara presisi, jangan sampai underpriced,” kata Jusup.